Perbedaan Rapid Test Dan Pcr Dalam Mendeteksi Virus Corona


Di awal tahun 2020 ini, virus corona atau dikenal dengan sebutan covid19 menjadi salah satu pendemi dunia yang melanda hampir seluruh kawasan di dunia. Menurut informasi yang dikutip dari situs resmi pemerintah Indonesia pada tanggal 26 April 2020, setidaknya ada 203 negara yang telah terkonfirmasi terjangkit virus ini, dengan total jumlah penderita mencapai 2.804.796 dengan kematian 193.722.

Virus Corona ini merupakan salah satu jenis virus sangat menular dan berbahaya, buktinya hanya dalam waktu antara 4 bulan virus ini mampu menjangkiti hampir negara di seluruh dunia dengan jumlah penderitanya mencapai jutaan dengan angka kematian lebih dari ratusan ribu jiwa, dari 203 negara yang disebut diatas salah satu adalah Indonesia.

Untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 atau virus corona Presiden Joko Widodo melakukan antisipasi cepat dengan memberikan instruksi melalui Jubir Presiden Fadjroel Rachman, pada 25 Maret 2020, agar rapid test dapat segera didistribusikan keseluruh wilayah Indonesia.

Meski pada sebelumnya alat pengecekan menggunakan metode Reaksi berantai polimerase atau PCR (Polymerase Chain Reaction), saat ini rapid test dijadikan sebagai alternatif alat pengecekan corona virus ini, alasannya karena alat ini lebih mudah dalam penggunaannya, ditambah kondisi semakin parah dengan seiring bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 dalam setiap harinya.

Namun yang perlu kita ketahui bahwa kedua alat pengecekan covid19 ini memiliki perbedaan dalam cara kerjanya, baik itu pada proses maupun hasilnya, Sekretariat Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Berry Juliandi memberikan penjelasan tentang perbedaan dari alat rapid test dan PCR dalam mendeteksi keberadaan virus Corona.

Metode PCR

Cara kerja metode PCR yaitu memperbanyak replikasi DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme, dengan mengambil sampel lendir melalui hidung atau tenggorokan pasien.

Penggunaan metode ini memerlukan waktu yang lebih lama, sebab perlu melakukan persiapan hingga analisis hasilnya. Meski metode ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan Rapid Test, akan tapi hasil yang diperoleh di yakini lebih akurat, sehingga langsung dapat memberikan kesimpulan bahwa pasien tersebut positif atau negatif terhadap covid19.

Metode Rapid Test

Sedangkan metode Rapid Test ini hanya memerlukan darah pasien dan persiapan yang sedikit, sehingga tidak memerlukan banyak waktu pada tahap pendeteksian dari keberadaan virus Corona ini.

Keunggulan dari penggunaan metode Rapid Test ini lebih cepat dibandingkan metode PCR, namun dari sisi kekurangannya dari Rapid Test ini tidak dapat mendeteksi apakah pasien positif atau negatif terhadap virus Corona, melainkan hanya untuk mengetahui antibodi dalam melawan virus.

Padahal antibodi di dalam tubuh baru akan diproduksi setelah beberapa hari orang tersebut terinfeksi virus Corona ini, sehingga jika ada orang yang baru terinfeksi maka hasil yang diperoleh bisa saja masih negatif ketika dilakukan pengetesan menggunakan rapid test dan akan berubah positif dalam beberapa hari kedepan tapi tidak diketahui, sehingga dalam hal ini akan membahaya banyak orang.

Kontribusi Halodoc

Sebagai upaya membantu pemerintah dalam menekan terjadinya laju peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia, Halodoc ikut berkontribusi dengan menyediakan layanan rapid test masal yang berlokasi di beberapa rumah sakit Jabodetabek. Selain itu, Halodoc juga memberikan layanan tanya dokter sebagai langkah awal penanganan dan diagnosa covid19.

Jika gejala-gejala mirip seperti yang ditimbulkan oleh virus corona tak kunjung membaik dalam beberapa hari kedepan, atau justru gejalanya semakin memburu, anda bisa memanfaatkan layanan tanya dokter di Halodoc untuk mendapatkan penanganan dan arahan yang tepat agar peluang kesembuhan dari terinfeksi virus Corona ini jadi lebih besar.

Belum ada Komentar untuk "Perbedaan Rapid Test Dan Pcr Dalam Mendeteksi Virus Corona "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel